Halo semua! Perkenalkan, nama saya Ferdi, berasal dari Cirebon. Pada tahun 2026 ini, saya masih duduk di bangku SMK kelas 2 dan cukup sering mengikuti berbagai lomba tingkat nasional sejak kelas 1 SMK. Di tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman mengikuti Lomba Kompetensi Siswa (LKS) bidang Web Technology tingkat provinsi yang diselenggarakan secara offline di Purwakarta.
Sebelumnya, semua lomba yang pernah saya ikuti dilaksanakan secara online, sehingga saya sudah cukup terbiasa dengan format tersebut. Namun kali ini berbeda, karena perlombaan diadakan secara offline. Ini menjadi pengalaman pertama saya mengikuti kompetisi secara langsung.
Tiga minggu sebelum lomba, saya mendapat informasi bahwa sekolah saya dipilih untuk mewakili Kabupaten Kuningan dalam ajang LKS di Purwakarta. Saat mendengar kabar itu, saya merasa sangat bangga karena dipercaya untuk menjadi perwakilan sekolah dan daerah.
Sebenarnya, sejak awal kelas 10, guru pembimbing saya sudah memberikan berbagai dokumen untuk dipelajari. Tujuannya sebagai persiapan apabila suatu saat saya terpilih mengikuti perlombaan ini. Dan benar saja, setelah satu tahun berlalu, kesempatan itu akhirnya datang.
Dalam waktu tiga minggu yang tersisa, saya belajar sekeras mungkin untuk memahami seluruh kisi-kisi yang diberikan oleh panitia. Saya berusaha mempelajari semuanya, meskipun waktu tidur sering terganggu. Namun saya tetap terus belajar karena memiliki prinsip yang cukup unik, yaitu “Mati atau Menang.” Memang terdengar konyol, tetapi kalimat itu menjadi motivasi bagi saya agar tidak mudah menyerah saat belajar.
Di masa persiapan tersebut, saya mulai mempelajari hal baru, yaitu bahasa pemrograman PHP beserta framework-nya, Laravel. Sayangnya, sejak terjun ke dunia web development, saya sangat jarang menggunakan PHP, apalagi Laravel. Saya lebih terbiasa menggunakan bahasa pemrograman favorit saya, yaitu JavaScript.
Karena waktu yang terbatas, saya mempelajari PHP dan Laravel secara fokus pada materi-materi fundamental yang sesuai dengan kisi-kisi lomba. Saya tidak mendalami semuanya secara menyeluruh, melainkan memprioritaskan hal-hal yang kemungkinan besar akan muncul saat kompetisi.
Tiga minggu pun berlalu. Pada hari Selasa, kami berangkat menuju Purwakarta menggunakan kereta api. Bahkan selama perjalanan, saya masih menyempatkan diri untuk belajar dan mengulang materi agar lebih memahami konsep-konsep yang telah dipelajari. Pada hari yang sama, kami tiba di penginapan dan beristirahat untuk menghadapi perlombaan keesokan harinya.
Malam berlalu dan pagi pun tiba. Sejak bangun tidur, kepala saya terus dipenuhi pertanyaan:
“Kamu siap?”
“Fundamental kamu sudah cukup kuat?”
Pertanyaan itu terus muncul sepanjang perjalanan menuju lokasi perlombaan. Namun guru pembimbing saya berkata, “Tidak usah terlalu tergesa-gesa, santai saja.” Kalimat sederhana itu saya tanamkan dalam-dalam di pikiran saya.
Tidak lama kemudian, perlombaan pun dimulai.
Saya cukup terkejut karena modul pertama yang dikerjakan adalah Backend. Panitia mulai melakukan hitung mundur, “Satu… Dua… Tiga…”
Pada hitungan ketiga, suara keyboard seluruh peserta langsung terdengar bersamaan. Suasananya seperti hujan ketikan yang tidak berhenti:
“Tik-tik-tik-tak-tak-tak…”
Saya sempat berpikir, “Mereka sebenarnya sedang mengetik apa sih?” Namun saya segera mencoba fokus pada tugas yang diberikan oleh panitia.
Untuk modul Backend ini, waktu pengerjaannya adalah 2 jam. Modul tersebut dibagi menjadi dua fase. Fase pertama adalah membuat API dalam waktu 2 jam, kemudian dilanjutkan dengan fase kedua, yaitu integrasi API ke Frontend.
Sayangnya, pada fase pertama menggunakan Laravel, saya melakukan salah satu kesalahan terbesar selama perlombaan: lupa sintaks.
Saat itu saya mulai panik. Peserta lain sudah berhasil membuat endpoint dan API mereka berjalan dengan baik, sementara saya masih sibuk memperbaiki error yang sebenarnya saya buat sendiri. Penyebabnya hanya karena saya lupa sintaks untuk membuat validasi request.
Dua jam berlalu dengan sangat cepat.
Selanjutnya masuk ke fase Frontend, yaitu integrasi API menggunakan React. Karena saya sudah cukup lama menggunakan React, saya merasa lebih percaya diri mengerjakan bagian ini.
Namun lagi-lagi saya melakukan kesalahan yang cukup fatal: typo.
Kesalahan yang terlihat sepele itu justru menghabiskan hampir 15 menit waktu saya hanya untuk menemukan sumber masalahnya. Akibatnya, saya kembali kehabisan waktu dan tidak dapat menyelesaikan seluruh tugas sesuai harapan.
Hari kedua adalah pengerjaan modul Client Side dengan durasi 4 jam.
Pada modul ini, kami diminta membuat sebuah sistem node. Mekanismenya adalah membuat sebuah canvas yang menjadi tempat untuk menampilkan berbagai node. Setiap node dapat dihubungkan dengan node lainnya melalui titik-titik tertentu. Selain itu, terdapat juga sistem pencarian rute terdekat untuk menentukan jalur mana yang paling efisien menuju suatu node.
Di modul ini saya cukup puas dengan hasil pekerjaan saya. Sebagian besar fitur berhasil saya kerjakan dengan baik. Meskipun demikian, masih ada beberapa bagian yang belum selesai karena keterbatasan waktu.
Pada hari yang sama juga dilaksanakan pengumuman pemenang LKS tingkat provinsi.
Kami semua dikumpulkan untuk melihat hasil akhir perlombaan. Dan sayangnya, nama saya tidak masuk ke dalam tiga besar.
:)
Meskipun begitu, saya tidak merasa kecewa berlebihan. Dari perlombaan ini, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman yang sangat berharga.
Jika ada di antara kalian yang ingin mengikuti LKS Web Technology secara offline, ada satu hal yang ingin saya sampaikan:
Pelajarilah fundamentalnya secara menyeluruh. Jangan mencoba menghafal seluruh kode, karena itu adalah strategi yang sangat berbahaya.
Selain itu, jangan pernah meremehkan lawan kalian. Kita tidak pernah tahu seberapa banyak waktu, tenaga, dan bahkan jam tidur yang mereka korbankan untuk belajar dan mempersiapkan diri demi memenangkan perlombaan ini.
Mungkin sampai di sini cerita pengalaman saya.
Terima kasih sudah membaca.
Keep Learning.
